Jumat, 03 Juni 2016

Kaderisasi Penulis




Pelajar dan Mahasiswa di Media Massa   Cetaft
Satu fenomena sangat menyedihkan ketika tahun ‘80-an beberapa pengarang muda seperti Hilman Hariwijaya, Zara Zettira, Gola Gong, dan Bubin Lantang merajai peredaran buku-buku cerita remaja, dialog- dialog kepenulisan pun hangat diselenggarakan dengan peserta melimpah. Meskipun demikian, dunia kepenulisan bagi remaja dan mahasiswa sampai saat ini memang masih sepi oleh penggemar. Diibaratkan “hangat-hangat tahi ayam”, pada saat ada diklat kepe- nulisan, diklat jurnalistik, dan sebagainya, mereka berbondong-bondong untuk meramaikannya, tetapi setelah itu ibarat mimpi lewat saja.
Ada satu protes keprihatinan yang dilontarkan oleh seorang penulis yang sudah memiliki nama, yaitu Gola Gong pada saat seorang panitia dialog kepenulisan mengajukan proposal kepadanya sebagai pembicara dalam dialog tersebut. “Apakah tidak bosan mengundang saya? Hasilnya selama ini yang sudah terwujud apa? Apakah saya masih laku untuk ditawarkan, sementara dunia fashion, jumpa fans, cover majalah, jauh lebih laris dibandingkan dunia kepenulisan?” Hal ini saya kira wajar jika Gola Gong seakan-akan memberontak melihat ketidakpedulian para remaja dan mahasiswa sekarang terhadap lahan yang sebenarnya menjanjikan masa depan yang sangat cerah. Apalagi setelah adanya reformasi tahun 1998, adanya kebebasan berdemokrasi, berekspresi, dan berkarya sangat marak bermunculan media massa cetak dan elektronik di Indonesia. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan penulis- penulis remaja yang masih memiliki idealisme dan ketangguhan berkarya secara inovatif.
Faktor utama yang menyebabkan “kemandekan dan kemandulan” proses kreatif para mahasiswa dan remaja dalam dunia tulis-menulis adalah sebagai berikut.
1.        Mahasiswa kurang mencintai dunia tulis-menulis.
2.        Kurangnya bekal dan pelatihan kepenulisan atau jurnalistik bagi mahasiswa.
3.        Mahasiswa kurang merespons kegiatan tulis-menulis yang dapat mendukung keprofesionalan sebagai sarjana plus pada saat lulus kuliah nantinya.
Sebagai pegangan bagi penulis pemula, perlu diperhatikan beberapa persyaratan ketika ingin menulis artikel, esai, atau mungkin karya jurnalistik lainnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1.        Mengetahui Persyaratan Menulis
a.        Tulisan harus orisinil, belum pernah dimuat di media lain.
b.        Bersifat aktual dan faktual.
c.         Mengandung unsur ilmiah populer, bukan ilmiah teknis.
d.        Tidak menyerang pribadi orang lain atau memojokkan pihak- pihak tertentu.
e.        Tidak melanggar kesusilaan.
f.          Materi bukan merupakan promosi yang bersifat komersial tentang suatu produk atau usaha jasa lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.        Etika Penulisan

Kebebasan penulis artikel di media cetak tetap harus berpegang pada rambu-rambu ataupun aturan penulisan di media cetak. Berikut ini beberapa etika yang harus diperhatikan seorang penulis media cetak.
a.        Jangan mengirimkan naskah yang sama atau mirip kepada lebih satu media cetak.
b.        Jangan memanfaatkan artikel untuk kepentingan seseorang atau kelompok.
c.         Jangan menanyakan kapan artikel Anda dimuat dan honor Anda sebagai penulis.
g.        Jangan meminta kembali artikel Anda apabila tidak dimuat di media cetak.
h.        Pahami karakter media cetak yang Anda incar tersebut, baik model, gaya, pembaca, dan model pengiriman naskahnya.
3.        Memahami Karakter Redaktur
Masing-masing redaktur media cetak memiliki karakter yang berbeda-beda. Namun demikian, para redaktur pada umumnya memiliki cara kerja yang sama dalam bidang penerbitan media. Oleh karena itu, Anda harus mengenali dan memahami karakter redaktur masing-masing media cetak.
4.        Mengenal Kerja Redaktur
Seorang redaktur media cetak biasanya memiliki beberapa alternatif ketika menentukan sebuah tulisan dimuat atau tidak. Hal- hal yang biasanya dilakukan oleh redaktur untuk memilih artikel yang akan dimuatnya, antara lain sebagai berikut.
a.        Apakah topik artikel aktual atau judulnya menarik.
b.        Khusus untuk judul apakah ada kejutan, keunikan, atau menun- jukkan kebaruan.
c.         Apakah panjang tulisan sesuai yang dipersyaratkan masing- masing media masa cetak.
d.        Apakah artikel datang tepat waktu atau bahkan mendahului waktu, khususnya artikel yang menanggapi peristiwa teragenda.
e.        Apakah artikel itu secara teknis memudahkan (misalnya Anda kirim lengkap dengan disketnya).
f.          Apakah artikel itu mempunyai ide baru atau sekadar mengulang pendapat orang lain.
g.        Apakah sudah menggunakan bahasa yang baik dan benar.



 

Sumber : Buku Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/MA/2013 kelas XII

Teknik Membaca Puisi yang Memikat



teknik membaca puisi menyangkut berbagai kal, agar tampilannya lebih menarik t idak, komunikatif,  dan  segar.  teknik−teknik  tersebut  adalah  sebagai berikut.

a.       Vokal/Lafal

Da1am membaca puisi diperlukan pengucapan vokal atau lafal yang je1as. Dengan demikian, pendengar akan memahami secara jelas apa yang kita sampaikan. gerakan mulut per1u senantiasa dilatih untuk mengucapkan kata secara tepat dan jelas.

b.       Intonasi/Tekanan

Selain olah vokal juga perlu olah intonasi dan tekanan suara, seperti sedang, berat, ringan, kemerduan. Perlu diperkatikan tekanan dinamik, tekanan tempo akan berbeda dengan suara reporter dan pranatacara tetapi cukup lantang.

c.        Penghayatan

latikan pengkayatan juga sangat diperlukan untuk daµat membaca puisi secara memikat dan menarik. Untuk dapat mengkayati puisi dengan baik, kalian wajib membaca naskah terlebih dahulu dan memahami isinya.

d.      Gerak/Mimik dan Ekspresi

gerak/mimik  dan ekspersi yang tidak tepat juga membuat pembacaan
puisi kurang menarik. Oleh  karena itu, dalam pembacaan puisi  harus memerhatikan betul isi dan pengkayatan terhadap naskah puisi yang akan dibaca sekingga dapat      sesuai.

e.       Latihan Pernapasan

 

 

Sumber : Buku Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/MA/2013 kelas XII