Jumat, 03 Juni 2016

Mendengarkan Berita Fakta dan Opini

Teknologi telekomunikasi dan informasi terus berkembang, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Oleh sebab itu, kita harus mampu menyimak secara kritis agar tidak terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan dan tidak sesuai dengan budaya bangsa. Perkembangan telekomunikasi akan semakin meningkat dengan dimuncul- kannya berbagai sarana dan prasarana yang memadai, baik melalui telepon, televisi, radio, pager, internet, dan sebagainya. Informasi-informasi tersebut jelas memberikan dampak positif dan negatif kepada masyarakat. Dampak positif dari teknologi adalah wawasan bertambah, kita bisa melihat kondisi negara lain tanpa beranjak dari tempat duduk. Sedangkan dampak negatifnya adalah hal-hal negatif itu bisa mempengaruhi psikologi kita, seperti :


pembunuhhan, pencabulan, perampokan, dan lain-lain.

Berbagai informasi tersebut dapat diperoleh dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Untuk informasi dari media cetak, kita dapat membaca informasi dari dalam media tersebut. Sedangkan untuk menangkap berita/ informasi dari media elektronik (khususnya radio dan televisi) kita harus mendengarkannya dengan saksama. Artinya, mengikuti jalan pikiran sang pembicara dengan sungguh-sungguh. Setelah mendengarkan berita, Anda diharapkan mampu menyusun kembali berita tersebut dalam bentuk catatan seperti dalam format berikut. Perhatikan contoh berikut ini!

Format 1.1
Judul Acara
:
Seputar Indonesia/Liputan 6

Stasiun
:
RCTI/SCTV
Waktu Siaran
:
................................................
Tanggal Siaran
:
................................................
Isi Berita
:

1.   Apa
:
................................................
2.   Siapa
:
................................................
3.   Di mana
:
................................................
4.   Kapan
:
................................................
5.   Mengapa
:
................................................
6.   Bagaimana
:
................................................


Sumber : Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA kelas XII
 

Jumat, 11 Maret 2016

Menulis Pengumuman



Pengumuman dibuat untuk disebar luaskan kepda orang lain. Sebelum menulis pengumuman sebaiknya di tentukan topiknya terlebih dahulu. Topic pengumuman adalah hal yang akan di beritahuakan dalam pengumuman. Contoh topic pengumuman misalnya latihan sepak bola, akan diadakan tes taraf intelegensi, dll.
Ketika menulis pengumuman, bahasa yang digunakan harus singkat, padat, dan mudah dipahami. Tujuannya agar orang yang membaca atau mendengarkan pengumuman dapat memahami isi pengumuman.

Contoh :

PENGUMUMAN

                Diumumkan kepada semua siswa bahwa dalam rangka mengisi waktu luang setelah ulangan tengah semester II, sekolah akan mengadakan serangkaian kegiatan. Adapun kegiatan yang akan diadakan adalah :

1.       Lomba sepak bola
2.       Lomba Bulu tangkis
3.       Lomba bercerita
4.       Lomba kebersihan kelas

Kegiatan tersebut diselenggarakan pada :

Hari/tanggal     :  senin  -  kamis, 10-13 maret 2016
Waktu                : pukul 07.30 – selesai
Tempat              : SMA Bina Bangsa

Kami berharap setiap siswa berpartisipasi dalam lomba tersebut. Terima kasih.

Jakarta, 3 Maret 2016
Kepala sekolah

Haryanto S.Pd

Membaca Intensif

Adalah cara membaca secara seksama terhadap rincian suatu teks atau bacaan. Membaca intensif dilakukan ketika hendak meneliti, memhami, dan mengkritisi suatu bacaan.
Kalimat utama biasanya  di temukan pada setiap paragraph. Pada setiap paragfar biasanya hanya ada satu pokok pikiran / suatu pikiran utama atau membuat beberapa pikiran penjelas.
Sebuah paragraph dikatakan baik susunannya apabalila urutan kalimat” dalam paragraph itu runtutu dan padu.

 Caranya :
1.       Tetntukan kalimat pokook terlebih dahulu.
2.       Kembangkan kalimat pokok dengan beberapa kalimat pendukung.
3.       Usahakan kalimat pendukung itu disusun secara urut.

Contohnya :

Ulangan

“belajar yang baik! Besok kita ulangan.” Pesan pak guru kepada siswa sebelum mengakhiri pelajaran.
“baik, pak!!” para siswa menjawab serempak.
 Mereka kemudian berkemas kemas. Bobi memimpin teman temannya untuk memeberi salam kepada pak guru. Setelah itu, mereka keluar kelas dengan tertib. Diluar mereka tampak ramai bercakap cakap. mereka membicarakan persiapan untuk menghadapi ulangan besok.
“ini buku siapa?” Tanya pak guru dari depan pintu. Iya memnjukan buku cerita. Bobi dan kawan kawannya menoleh kearah pak guru.
“oh, buku itu milik Fatimah,” ujar anto. “tapi, Fatimah sudah pulang, pak.”
“ya, sudah. Bapak titipkan saja pada kalian. Nanti kalau bertemu Fatimah, berikan, ya!” kata pak guru.
“baik pak!!” ujar anto dan kawan kawannya. Anto menerima buku dari pak guru.




Referensi : Buku Bahasa Indonesia kelas IV SD, masmedia

Teks Eksposisi



Kemacetan di Kota
 
Tranportasi di denifisikan oleh para ahli sebagai kebutuhan turunan dari berbagai kegiatan ekonomi maupun sosial. Tipe kegiatan sosial ekonomi yang berbeda akan memiliki dampak kegiatan transportasi yang berbeda pula.

Kegiatan tranportasi harian relative menimbulkan pergerakan yang bersifat berulang, misalnya yang terjadi pada para pekerja dan mereka yang menempuh pendidikan di sekolah. Di  Jakarta, kemacetan terjadi setiap hari pada titik yang menjadi jalur pergerakan para pekerja dan siswa dari tempat tinggal menuju lokasi kerja dan sekolah.

Kemacetan yang berulang pada jangka lebih panjang cenderung terjadi pada musim liburan maupun lebaran. Pada tahap kedatangan dan kepulangan, kemacetan parah akan terjadi pada jalan-jalan arah luar kota misalnya Bogor dan Depok. Pada rentang di antara maksud tersebut, kemacetan dapat dirasakan di pusat kota sebagai lokasi menginap  dan tujuan wisata seperti Ancol.
Kemacetan harian yang dominan ditimbulkan oleh aktivitas maasyarakat dalam lingkup internal. Kemacetan  yang berulang setiap hari merupakan akses dari pola tempat tinggal, bekerja dan bersekolah. Upaya mendekatkan lokasi tempat tinggal dengan lokasi kegiatan merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan. Bentuknya dapat berupa pemberian tempat tinggal berupa rumah susun sewa maupun milik yang cukup nyaman untuk beraktivitas. Selama ini sepertinya belum ada upaya pengaturan pola berkegiatan yang sistematis.